Blog / News

MERENUNG KEMBALI MELAYUKU MELAYUMU

Posted by:

Telahku amati makna melayuku
dari mata dan bibir sejarah
yang pernah luka bagai selendang berdarah
yang pernah pilu bagai perawan berduka
mengalirnya melayumu
pernah lembut dan terus
menjadi embun
dingin mempesona
dan melayuku
suatu ketika bagai riak danau
terkandas di lumpur
berdebu dan kotor
masihku ingat melayuku
bagai serigala sengsara
sakit dan terseksa
di perut gua
gelap bagai jelaga,
telah kujumpa melayumu
pernah berjebat dan bertuah
menggenggam tangan membuka dada
mematahkan bianglala
yang melilit pinggang sejarahmu
namun kecundang
di hujung senja yang suram mimpinya
dan melayuku tidak lagi duka rindunya
walau dipeluk belantara kota
dibelai aspal jalan raya
melayumu hilang purnamanya
tiada lagi haruman cempaka wangian cendana
melayuku membina semula pelaminan patah
menerangi pusara legam
membawa purnama pada malam yang pasrah.

Mohamed Pitchay Gani BMAA
NIE – 14/06/2011

(sajak asalnya bertajuk “Melayuku Melayumu” ditulis oleh penyair Mohamed Latiff Mohamed yang diterbitkan pada 1983 di Dewan Sastera Dewan Bahasa dan Pustaka)

12

Discussion

  1. Hairani Asri  February 15, 2011

    Kegemaran KitaKegemaran kita bukan membenar-benarkan diriatau mengoyak-ngoyak realitimahupun yang melingkungikelemahan dirijika dibuai waktudan mimpi dinihariseberapa dicari-caridalam tenang, bukan menentang;kesendirian mengajak untuk menyepitidak mengelak tugas beban berdiri,mengesani senje meredup rendahmenarik halussebaris urat pernah terlucut sudahmanusia ini melepaskan dirinya buat sementarakegemaran kitabukan membenar-benarkan diriyang bermain dalam renungan:mimpikan hidup inisekadar benua manusia yang pernah terasing.Hairani AsriS0900006A(sajak asalnya bertajuk "Kegemaran Kita" ditulis oleh penyair Masuri S.N. yang diterbitkan pada 1995 di dalam antologi sajak, Mimpi Panjang Seorang Penyair)

    (reply)
  2. Nur Syazwani♥  February 15, 2011

    Ini nasi yang kusuapDengan adanya logam di kedua belah tangan Atas pinggan tembikar bukan daunnya pisangNasi ini pernah sekali menjadi padi harap, Melintuk dipuput angin pokoknya kerap Tenang berisi tunduk menatap.Ini butir nasi yang kukunyah Penuh lahap kerna kesuntukan waktu untuk menikmatiSedang kutelan melalui tekak basah, Diteguk langsung dengan minuman manisJadi dari darah mengalir Dalam badan gerak berakhir.Angin kencang mentari khatulistiwa Membakar raga petani di sawah Panas hujan dan tenaga masuk kira Apa ku kisahFairprice, Sheng Siong tidak akan ketiadaan berasWalaupun nasi yang kumakan campuran dari semua.Ini budi yang tak ku lihatPemberian lumrah beranting dan bertaut, Ini nasi hasil dari kerja Kembali pada siapa yang patut menerima.Jadi yang kumakan mungkin bukan berasal dari nasi Tapi peluh, darah dalam isi mengalir pasti, Jadi yang kutelan mungkin bukan berasal dari padi Tapi dari urat dari nadi seluruh Pak Tani.Entahlah, tiada waktu menilaiPantas dan padatnya hidupKita makan untuk hidupTidak sebaliknya…(sajak asalnya bertajuk "Ini Nasi yang Kusuap" ditulis oleh penyair Masuri S.N. yang diterbitkan pada 1958: Diterbitkan di Dewan Bahasa KL)

    (reply)
  3. Sitti Maisarah  February 16, 2011

    'Ros Kupuja' Tidak Lagi Dipuja Ros yang pernah berkembangtidak lagi memerah garangdan bukan lagi pujaansetiap insan.Tiada lagi disinari mataharihilang seri,dahulu merekah wangimemikat hati.Dahulu jiwa pahlawanpernah dipandang kembang,tidak lagi berjuangmembela watan.Harumannya yang terkiraRontok menyesal,Bagaikan sateriatiada lagi pulang ke asal.Sitti MaisarahS0900021A(sajak asalnya bertajuk "Ros Kupuja" ditulis oleh sasterawan Singapura, Masuri S.N. yang diterbitkan di buku atalogi puisi 'Puisi Pilihan' pada tahun 1989)

    (reply)
  4. Shahirah Samsudin  February 16, 2011

    Bangsaku Di Hari LahirkuMereka berkumpul lagicerita pasal harga membukit tinggibeca rosak karat menantiperut isteri buncit lagiinilah bangsakuMereka berkumpul lagibicara bakat kerja apa patut dicarisekolah sudah berhentisijil angka enam di hujung kakiinilah bangsakuMereka berkumpul lagidi flet-flet mencakar langitdi hotel-hotel tegak membukitdi kasino-kasino berderetanak-anakku mengangguk menundukminta kerja tukang sapu puntung rokokinilah bangsakudi kicauan sains dan teknologidi puncak politik dunia sepidi kederasan ekonomiummiku punya mimpi sendiripunya nasib sendiripunya takdir sendiridi kiri duri, di kanan api.Mohamad Latiff MohammadBerita Minggu(19 Mei 1974)___________________________Apa benar ini bangsaku?Hari ini aku melihat merekaHanya dari jauhSudah ku agak; Mereka masih lagi berkumpulBukan berborak tentang wangTetapi berborak dengan wangKali ini bukan tentang beca, tapi kereta mewahTentang anak bini Tapi tidak tentang masyarakat,Apa benar ini bangsaku?Aku melihat mereka,masih lagi di situ,bangga dengan ijazah yang diterbang masuk lakar strategi perniagaanjual beli rumah, kumpul-kumpul hartakaripap jalanan tidak hiraukanmasyarakat sendiri dibuang,Aduh,Apa benar ini bangsaku?Aku terus melihatMereka masih lagi di situRumah batu tidak cukup empat tingkatKereta berderet ibarat anak ayamDatang malam mengisi ruang hotelMakan malam istimewa untuk jamuanAnak-anak muda pula tinggi hidungnyaPeluang kerja; apa ? sapu puntung rokok ?Oh tidak! Tak sanggup. Malu nanti.Apa benar ini bangsaku?Di balik kesenanganTersirat kesusahanApa mata bangsaku sudah buta?Kereta BMW menanti di luarSi anak beratur mengambil duit biasiswaApa benar ini bangsaku?Yang atas tidur bertilamkan emasYang bawah tidur bertilamkan kertas akhbarApa yang Atas sudah buta?Atau buat-buat buta?Apa yang Bawah benar sudah tidak terdayaAtau sekadar menanti simpati dan bantuan?Ya Allah, apa benar ini bangsaku?Apa benar ini bangsaku?Dulu aku pernah melihat merekaAku panggil mereka bangsakuHari ini Aku masih lagi melihat merekaKali ini,Tanyaku hanya satu,Apa benar ini bangsaku?Shahirah Samsudin16 Februari 2011

    (reply)
  5. sitinoraishasenin  February 16, 2011

    Berikut merupakan sajak asal Usman Awang:'Zaman Ini' oleh Usman AwangZaman ini serba pahit terasa,Hanyir darah masih membalut udara,Segala suara mati di rongga tak bernada.Hati-hati bila bichara dimuka siapa,Kerling mata menyisip antara ruang penjara.Engkau penyair akan menulis segala cherita,Penamu tajam boleh mengiris segala derita!Zaman ini mengajarmu hidup berpura-pura,Atau sekadar menyelamatkan diri menganggukkan kepala.Engkau wartawan kutip berita antara manusia,Penamu tajam dapat menchungkil keburukan mereka!Engkau diam mengikat tangan dibawah meja,Zaman ini memaksamu menulis yang baik belaka.Semua menekan karena diatasnya besi berpadu,Segala menjemukan karena padanya palsu-palsu.(sajak asal bertajuk "Zaman Ini" ditulis oleh penyair Usman Awang telah diterbitkan pada 1963 di dalam antologi sajak, Sajak2 Melayu Baru: 1946-1961.) Berikut merupakan sajak yang telah diolah:'Zaman Ini dan Itu'Zaman dahulu dan kini serba pahit terasa,Walau hanyir darah tidak membalut udara,Segala suara masih mati di rongga tak bernada.Zaman dulu dan kini juga,Hati-hati bila bichara dimuka siapa,Kerling mata menyisip antara ruang penjara.Engkau penyair akan menulis segala cherita,Penamu tajam boleh mengiris segala derita!Zaman dulu dan kini mengajarmu hidup berpura-pura,Atau sekadar menyelamatkan diri menganggukkan kepala.Engkau wartawan kutip berita antara manusia dan negara,Penamu tajam dapat menchungkil keburukan mereka!Namun engkau masih diam mengikat tangan dibawah meja,Zaman dulu dan kini tetap memaksamu menulis yang baik belaka.Semua terus menekan karena diatasnya besi berpadu,Segala menjemukan karena padanya palsu-palsu.Tidak pernah berubah si penulis lalu dan baharu,Zaman berganti berzaman tetap begitu.Siti Noraisha Mohamed SeninS0900019A

    (reply)
  6. shahedabintalib  February 16, 2011

    Kota Singaku(Masuri S.N. melalui buku Sajak-sajak Melayu Baru 1946-1961)Dilahirkan akuSatu waktu menjenguk tentuMengetuk pintuBuat lalu-lalang pilu.KeluarkuKeluar bicara baruSukmakuPernah menyentuh dada deruApa yang memikatAtau apa yang kupikatDi hatiku aku terikatDi kotaku aku terlekatSetau yang kuserapMengenal bintang malapAyahku begitu kerapMendoa memohon harapDalam detik dera merajaSukmaku bicara sajaBangun dari puing sisa siksaDi kotaku aku selama.————————–Kota SingakuDilahirkan akuSatu waktu menjenguk tentuKini tiada lagi peristiwa ituMengetuk pintuBuat lalu-lalang pilu.KeluarkuKeluar bicara baruTidak dihiraukan biarkan ia berlaluSukmakuTiada menyentuh dada deruApa yang memikatAtau apa yang kupikatDi hatiku aku terikatDijiwaku aku disekatDi kotaku aku tidak akan terlekatKini yang kuserapBintang itu tidak lagi bermalapAyahku begitu kerapMendoa memohon tanpa berharapAgar ilmuku setiasa digarapDalam detik dera merajaSukmaku bicara sajaBangun dari puing sisa siksaLari dari dunia puraDi kotaku aku tiada16.02.2011Shaheda SalimS0900016K

    (reply)
  7. shashasha affan  February 16, 2011

    Puas-PuasPuas-puas bercakaphati pun tergerakuntuk memerhatikan sikapyang memihakke mana perkara akan dibawasoal manusia soal duniapuas-puas berfikirbegini jadinyauntuk bermenung menaksirsetiap yang terhasil:masih tetap tertangkapnada nafas yang tercunggap.kemanusiaan, keduniaanmenjadi hukum percaturan;rundingan dan kekuasaanmelihat berat pada kepalsuanMasuri S.N.Dewan Sastera, April 1990(sajak asal bertajuk "Puas-Puas" ditulis oleh penyair Masuri S.N dan telah diterbitkan pada 1990 di dalam buku Dewan Sastera) ________________Puas-puas bercakaphati pun tergerakuntuk memerhatikan sikap bangsakuyang memihak kepada kebobrokanWahai Pemimpinku,ke mana perkara akan dibawake mana pergi janji-janjimu?sesungguhnya soal manusia soal duniabalasannya di akhirat kelakpuas-puas berfikirakhirnya diterima begini jadinyauntuk bermenung menaksirsetiap yang terhasil:masih tetap tertangkappada jerat yang tersiapnada nafas mereka yang tercunggapsukar untuk berpidato mahupun berucap.kemanusiaan, keduniaanmenjadi hukum percaturan;rundingan dan kekuasaanmelihat berat pada kepalsuansemata-mata untuk berkedudukanSHAHIRAH BT. AFFANS0900018D

    (reply)
  8. Hairani Asri  February 17, 2011

    Sajak Asal Kegemaran Kita oleh Masuri S.N.kegemaran kitamembenar-benarkan dirimengoyak-ngoyak realiti yang melingkungikelemahan diridibuai waktudan mimpi dinihariseberapa dicari-caridalam tenang; menentangkesendirian mengajak untuk menyepimengelak tugas beban berdiri.mengesani senje meredup rendahmenarik halussebaris urat terlucut sudahmanusia ini melepaskan dirinyakegemaran kitamembenar-benarkan diribermain dalam renungan:mimpikan hidup inisekadar benua manusia terasing.

    (reply)
  9. Ariff Rizwan Sahab  February 17, 2011

    Kutafsir Kembali Balada Dolah Namaku Masih DolahTetapi bukan dari keluarga terbuangIbuku bukan pekerja kilangAyah bukan seorang penyapu jalanAku lulus darjah enam cemerlangTidak pernah mengulang peperiksaanKini umurku awal dua puluhanTidak lagi menunggu dipelawa menjadi tenteraDalam menjalani keterpaksaan Perkhidmatan NegaraNamun, abangku masih penagih dadahSudah limabelas kali masuk DRCDan kini tidak serik serik lagiTetapi bukan lagi dituduh perogol anak gadis suntiIbuku tidak pernah asyik di kilangAyah bukan seorang penjudiYang tikam nombor ekorTetapi mengunjung kasino setiap mingguAyah kini tugasnya mendakwaAnak muda yang memicit buah dada teman wanita merekaDi kawasan jiran tetanggaAku bukan lagi tinggal di rumah pangsaMasih lagi dua bilik sempit bagai reban angsaTetapi dilengkapi kolam renangBermandi berendam melihat angkasaNamaku Masih DolahTetapi menunggu masuk sekolah juruteraAyah seorang pekdakwaIbu pula mabuk hartaDan abangku masih di DRCEntah bila akan keluarMungkin lima atau enam tahun lagiNamaku Masih DolahTetapi hidupku tidak pernah susahDan masih tak pernah diajar mengajiKe masjid jauh sekaliAku masih tak tahu angkat hadas besarWalaupun sudah pandai berahiAyah tak pernah aku nampak sembahyangKe masjid mungkin sesekaliIbu pula masih asyik berdansa dan berdandanNamaku Masih DolahTetapi bukan lagi menunggu jadi tenteraDalam Perkhidmatan NegaraEntah bila akan dipanggilPejuang bangsa untuk negaraAriff Rizwan SahabS0900003K(sajak asalnya bertajuk "Balada Dolah" ditulis oleh sasterawan Singapura, Mohamed Latiff Mohamed yang diterbitkan di buku atalogi puisi 'Bila Rama-rama Patah Sayapnya' terbitan Angkatan Sasterawan ’50)___________________________________________Balada Dolah(Mohamed Latiff Mohamed)Namaku Dolahdari keluarga terbuangibuku pekerja kilangayah penyapu jalanaku lulus darjah enamsetelah empat kali mengulang peperiksaankini umurku lapan belasmenunggu dipelawa jadi tenteradalam Perkhidmatan Negaraabangku penagih dadahsudah limabelas kali masuk DRCdan kini tidak serik-serik lagidituduh merogol gadis suntiibuku asyik di kilangayah gemar berjuditikam nombor ekor setiap harikini dia didakwakerana memicit buah dadaanak jiran tetanggaaku tinggal di rumah pangsadua bilik sempit bagai reban angsa Namaku Dolahmenunggu menjadi tenteraayah akan didakwaibu pula mula mabuk ganjadan abangku masih di DRCentah bila akan keluarMungkin lima atau enam tahun lagi Namaku Dolahhidupku serba susahtak pernah diajar mengajike masjid jauh sekaliaku tak tahu angkat hadas besarwalaupun sudah pandai berahiayah tak pernah aku nampak sembahyangibu pula asyik berdansa dan berdandan Namaku Dolahaku menunggu jadi tenteradalam Perkhidmatan Negaraentah bila akan dipanggilberkhidmat untuk Negara

    (reply)
  10. sitinoraishasenin  February 17, 2011

    Berikut merupakan sajak asal: 'Kepada Manusia Baru' oleh Masuri S.N.Aku belum lama hidup di mayaBaru suku abad mengechap udaraMentari panas dan hujan dinginRibut topan dan besar anginAku tidak mengaku itu mengoyak batin.Daerahku tidak merah senyala apiSalji tidak turun memutih bumiAku tidak pernah main skiIni dalam tidur aku tidak pernah bermimpi.Aku sudah satu kali lihat perang Bom gugur dari kapalterbang Rumah hanchur-bangkai berserak tulangDisini menangis disana mengerang,Aku lihat juga manusia churangMenerkam ganas merampas barangBerani menjilat asal dapat bintangPeduli seribu jadi abu arang.Aku rasa juga perahan jiwaDi pagi hidup berchermin rangkaTiap mata kubuka pedh semataMelihat gambaran palsu merupa,Sampai meraung beribu nyawaDi kandang kotor penuh hamaUdara menchekik dada yang kunchupNapas tersekat sepanjang hidup.(sajak asal bertajuk "Kepada Manusia Baru" ditulis oleh penyair Masuri S.N. telah diterbitkan pada 1963 di dalam antologi sajak, Sajak2 Melayu Baru: 1946-1961.) ——————————————————————————————–Berikut merupakan sajak yang diolah:'Kepada Manusia Baharu'Aku belum lama hidup di mayaBelum lama bermandikan sinaran suriaBaru seperlima abad mengechap udaraMentari panas dan hujan dinginRibut topan dan besar anginAku tidak mengaku itu mengoyak batin.Daerahku tidak merah senyala apiSalji tidak turun memutih bumiTetapi aku sudah pernah main skiIni dalam tidur aku selalu bermimpi.Di laman sesawang dan cerita wayang,Aku sudah melihat perang Bom gugur dari kapalterbang Rumah hanchur-bangkai berserak tulangDisini menangis disana mengerang,Aku lihat juga manusia churangMenerkam ganas merampas barangBerani menjilat asal dapat bintangPeduli seribu jadi abu arang.Manusia baharu atau manusia lamaAku tetap rasa perahan jiwaDi pagi hidup berchermin rangkaTiap mata kubuka pedih semataMelihat gambaran palsu merupaHakikatnya segalanya dusta,Sampai meraung beribu nyawaDi kandang kotor penuh hamaUdara terus menchekik dada yang kunchupNapas terus tersekat sepanjang hidup.Siti Noraisha Mohamed SeninS0900019A

    (reply)
  11. Abdul  February 17, 2011

    Berikut merupakan sajak asal Mohamed Latif Mohamed:Subuh Dalam gema zikir memanjangMeninggi naik ke puncak awan Naik ke singgahsana pawanaEmbun meresap ke pangkal kenanganLangit mula jinggaAwan-awan berarak melepaskan rawanLara bumi sejuk ditindih embun semalamSuara zikir dengan munajat tuhanMelepasi takdir dan suratanSubuh kekasih tuhanSeluruh masjid dalam perkasihanMenggemakan zikir pewangiMenyampaikan sujud ilahiDalam jutaan mimpiSubuh membungkus impianDalam doa mustajab di destinasi zamanSubuh menampilkan perwajahanDalam dakapan kasihBersama wajah rembulanBerikut merupakan sajak yang diolah:Noda Hitam SubuhHilang gema zikir memanjangTiada naik ke puncak awan Tiada naik ke singgahsana pawanaEmbun meresap ke pangkal kenanganLangit mula terang benderangSang mentari menebarkan cahayaAwan-awan berarak melepaskan rawanLara bumi sejuk ditindih embun semalamTiada suara zikir dengan munajat tuhanMelepasi takdir dan suratanSubuh kekasih tuhanSeluruh masjid satu perhiasanYang wajib diendahkan, yang sunat diutamakanZikir pagi dilupakanHiburan menjadi rakanDalam jutaan mimpiSubuh membungkus impianHilang doa mustajab di destinasi zamanSubuh menampilkan kemaksiatanDalam dakapan kasihBersama wajah rembulan

    (reply)
  12. sally  February 17, 2011

    Suara dan BicaraJika suara sekarang tidak guna menentangHanya mungkin merayu atau menjilat bintang terlanjang,Yang manisnya memerah darah buat kaki langit jalang.Jika berlagak sekarang karena bicharakan napas memanasAtau usapi periuk kerontang membelasi nasib meramasJuga tidak lengkap hanya sekadar memuntahkan kias.Tidak bisa apa-apa angkat pena tidak chukup kataLichinkan daya churahkan muka ambil dimana-mana tembok terbuka,Sudah terang kepulangan kita membusuk timbunan rangka.Hidup kita bukanlah tidak bichara tidak suara menandakan mersa, Karena bersuara merasa bichara menandakan punya balasan dosaLagipun kita paham hidup sekarang bukan selesai buat haritua. Tiada Suara dan Bicara LagiJika suara sekarang memang tidak guna menentangTidak mungkin ada rayuan atau menjilat bintang terlanjang,Tiada yang manisnya memerah darah buat kaki langit jalang.Jika selalu berlagak karena bicharakan napas memanasAtau usapi periuk kerontang membelasi nasib meramasJuga masih tidak lengkap, mungkin hanya sekadar memuntahkan kias selalunya.Sudah bisa angkat pena walaupun tidak chukup kataLichinkan daya churahkan muka ambil dimana-mana tembok terbuka,Sudah terang kepulangan kita membusuk timbunan rangka.Hidup kita memang bukanlah tidak bichara tidak suara menandakan mersa, Karena bersuara merasa bichara selalunya menandakan punya balasan dosaLagipun kita sudah paham hidup sekarang bukan selalunya selesai buat haritua.(sajak asalnya bertajuk "Suara dan Bichara" ditulis oleh penyair Masuri S.N diterbitkan pada 1963 di Sajak-sajak Melayu Baru; Modern Malay Verse 1946-1961)Siti Salmah Binte HamidS0900020D

    (reply)

Add a Comment